Hingga 1 Oktober sore, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 108 santri, dengan rincian 103 orang selamat dan dirawat di rumah sakit, serta 5 orang meninggal dunia. Namun, masih ada 59 santri yang belum ditemukan.
Pada Rabu (1/10/2025), pemantauan dengan drone thermal mendeteksi 15 titik diduga lokasi korban, termasuk 7 tanda kehidupan. Sayangnya, hanya 5 santri yang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Seiring waktu, tidak lagi ditemukan tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan.
Keluarga korban akhirnya mengikhlaskan situasi tersebut dan menyetujui penggunaan alat berat untuk mempercepat evakuasi.
“Kami berdialog dengan keluarga para santri apakah sudah saatnya digunakan alat berat. Karena tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan, keluarga setuju. Namun tentu alat berat akan digunakan dengan sangat-sangat hati-hati,” jelas Menko PMK.
Ia menambahkan, “Mohon doanya semoga korban yang belum ditemukan bisa segera dievakuasi. Kita terus berdoa agar keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan menghadapi musibah ini.”
Usai berdialog, Pratikno meninjau langsung kondisi musholla yang runtuh. Ia menyaksikan kerusakan parah bangunan serta proses penggalian oleh tim SAR gabungan dengan dukungan alat berat.
Pemerintah menegaskan, penggunaan alat berat tetap dilakukan secara hati-hati untuk menjaga keselamatan serta menghormati para korban yang masih tertimbun reruntuhan.












