News  

Menag Nasaruddin Umar: Jaga Marwah Pesantren, Hindari Narasi yang Menstigma

Menag Nasaruddin Umar. Foto: Kemenag

“Ya, saya kira itu yang sangat penting buat kita. Mudah-mudahan ini pembelajaran buat kita semuanya,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya akan bertolak ke Jawa Timur untuk bersilaturahmi dengan sejumlah pondok pesantren.

“Saya hari ini akan ke Jawa Timur juga untuk bertemu dengan beberapa pondok pesantren,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Menag menegaskan bahwa pondok pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan keadaban sosial. Jasa pesantren dalam membentuk masyarakat yang santun, religius, dan beradab telah terbukti sejak ratusan tahun lalu. Kepercayaan masyarakat terhadap pesantren pun terus meningkat seiring waktu.

“Kalau mata hati kita melihat, apa yang terjadi di pondok pesantren sekarang ini justru hal yang berkebalikan dari citra negatif. Ada peningkatan yang sangat tajam, orang memasukkan anaknya ke pondok pesantren,” sebutnya.

Ia juga menyoroti nilai luhur yang diajarkan di lingkungan pesantren, di mana santri dilatih untuk menghormati guru dan kiai, yang menjadi cerminan sikap hormat anak kepada orang tua, dan pada akhirnya melahirkan masyarakat yang beradab terhadap pemimpinnya.

“Tradisi pesantren mengajarkan kesantunan murid kepada kiai. Dari situ lahir budaya hormat anak kepada orang tua, yang kemudian berimbas pada rakyat yang berbakti kepada pemimpinnya,” jelasnya.

Menurutnya, keseimbangan antara rakyat yang santun dan pemimpin yang berwibawa adalah gambaran nilai-nilai luhur yang tumbuh di pesantren. “Di mana ada rakyat yang santun, di sana biasanya ada pemimpin yang berwibawa. Dan di mana ada pemimpin yang berwibawa, di sana ada rakyat yang santun. Suasana kebatinan seperti inilah yang dibentuk oleh pondok pesantren,” tutup Menag.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow