Menurutnya, kepemimpinan ideal bukan hanya soal kharisma, tetapi juga kemampuan mengelola organisasi secara efektif.
“Nabi Muhammad SAW bukan hanya menonjol sebagai leader, tetapi juga sebagai manager. Inilah teladan bagi kita semua,” ujarnya.
Dalam khutbahnya, Menag juga menegaskan bahwa moderasi merupakan prinsip fundamental yang selalu dijaga NU. Moderasi bukan berarti menyeragamkan perbedaan, tetapi menempatkan perbedaan dan persamaan secara proporsional.
“Inilah prinsip moderasi Nahdlatul Ulama. Biarkan yang sama tetap sama, dan biarkan yang berbeda tetap berbeda,” tegasnya.
Menurut Menag, prinsip inilah yang menjadi fondasi kuat dalam menjaga kerukunan, kedamaian, dan stabilitas sosial di tengah masyarakat majemuk.
Menutup sambutannya, Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat atas satu abad perjalanan NU.
“Atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat kepada segenap warga Nahdlatul Ulama atas perjalanan panjang sejarahnya 100 tahun,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa posisi NU di tingkat global semakin strategis. Hal tersebut membuat NU terdorong untuk lebih aktif terlibat dalam isu-isu kemanusiaan dan perdamaian dunia.
“NU memiliki posisi kuat pada peta masyarakat, karena itu kita didorong untuk berperan lebih aktif, lebih berani melakukan kontak-kontak dengan pihak mana pun untuk kontribusi mengupayakan masalah global dan kemanusiaan dari perspektif nilai agama,” ujar Gus Yahya.
Gus Yahya juga menegaskan komitmen NU untuk terus mendukung langkah-langkah pemerintah yang berorientasi pada kemaslahatan rakyat dan perdamaian.
“NU mendukung semua upaya-upaya dan agenda pemerintah untuk menghadirkan kemaslahatan bagi rakyat,” tuturnya.
Puncak Harlah ke-100 NU turut dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Menko PMK Pratikno, serta Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.












