Masjid Saka Tunggal Banyumas: Jejak Islam Aboge yang Masih Kokoh di Bulan Ramadan

Masjid Baitussalam, yang lebih dikenal dengan nama Masjid Saka Tunggal, menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Foto: Arbi Anugrah

Sayangnya, sebagian besar ornamen asli masjid telah mengalami perubahan saat renovasi pada tahun 1976. Kini, hanya saka tunggal-lah yang masih tersisa sebagai komponen original dari bangunan abad ke-16 tersebut. Meski demikian, masjid ini tetap diakui sebagai cagar budaya sejak tahun 1989.

Tradisi Aboge dan Menyambut Ramadan

Keunikan Masjid Saka Tunggal tidak hanya pada bangunannya, tetapi juga pada komunitas muslim di sekitarnya. Mereka masih memegang teguh tradisi Islam Aboge dalam menentukan hari-hari besar keagamaan, termasuk awal dan akhir Ramadan.

Aboge adalah singkatan dari Rebo (Rabu) dan Wage, merujuk pada hari dan pasaran dalam penanggalan Jawa. Sistem kalender ini menggunakan perhitungan delapan tahun (sewindu) dengan nama tahun Alif, Ha, Jim Awal, Za, Dal, Ba/Be, Wawu, dan Jim Akhir. Setiap bulan terdiri dari 29-30 hari dengan hari pasaran Jawa seperti Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing.

Perhitungan Aboge ini mulai diperkenalkan pada abad ke-14 oleh para wali dan disebarluaskan oleh ulama Raden Rasid Sayid Kuning dari Kerajaan Pajang. Meski pemerintah Indonesia telah menetapkan awal Ramadan secara nasional berdasarkan hisab dan rukyat, komunitas Aboge di Cikakak tetap konsisten menggunakan perhitungan warisan leluhur mereka sebagai bentuk pelestarian tradisi.

Ritual Jaroh: Mempererat Tali Silaturahmi

Setiap tanggal 26 Rajab, masyarakat sekitar Masjid Saka Tunggal menggelar tradisi “penjarohan” atau “jaroh”. Ritual ini merupakan kegiatan ziarah untuk menghormati leluhur yang dimakamkan di sekitar masjid. Inti dari jaroh adalah gotong-royong mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan area pemakaman.

Makna filosofis dari jaroh adalah “menjaga njaba lan njero” atau menjaga luar dan dalam. Artinya, tradisi ini mengajarkan untuk senantiasa memelihara tali silaturahmi antar sesama manusia, sekaligus menjaga keimanan dan kepercayaan kepada Allah Swt.

Di bulan Ramadan, suasana spiritual di Masjid Saka Tunggal semakin terasa. Meski menggunakan perhitungan yang mungkin berbeda, semangat menjalankan ibadah puasa dan meraih keberkahan tetap sama. Masjid ini menjadi bukti nyata bahwa keberagaman dalam berislam, khususnya dalam tradisi lokal seperti Islam Aboge, dapat hidup berdampingan dengan damai di Banyumas.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow