Meski begitu, ia tidak kehilangan optimisme melihat kepedulian kampus terhadap mahasiswa terdampak bencana.
Rektor UMP, Prof. Dr. Jebul Suroso, menjelaskan bahwa pihak kampus telah menggalang simpati dan bantuan sejak bencana melanda Aceh dan Sumatera. UMP juga mengirimkan relawan psikososial ke daerah terdampak sebagai bagian dari proses rehabilitasi.
“Kita menggalakkan donasi. Keluarga UMP mendoakan saudara-saudara kita, bapak ibu kalian di sana agar segera membaik. UMP sudah mengirim tenaga sosial dalam rangka rehabilitasi pascabencana,” ujarnya dalam pertemuan bersama mahasiswa terdampak.
Namun perhatian kampus tidak berhenti pada bantuan ke daerah bencana. Mereka juga memastikan mahasiswa yang tengah belajar di Purwokerto tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa hambatan.
“Kalian makan setiap hari silakan datang, dan kita akan gratiskan. Yang tidak punya uang tidak boleh sampai tidak makan,” tegas Prof. Jebul.
Lebih jauh ia memastikan pembebasan biaya SPP tetap selama satu tahun bagi mahasiswa Aceh dan Sumatera yang terdampak. “Kalau kalian tidak punya uang untuk bayar SPP, satu tahun ini akan saya bebaskan. Kalau punya uang harus bayar. Kalau tidak punya, tidak usah,” lanjutnya.
Kampus juga membuka pintu bagi pelajar dari daerah bencana yang terancam putus sekolah. “Tanya teman-teman kalian di sana. Kalau perlu nanti kami jemput, kami asramakan, dan kami kuliahkan di UMP dengan skema beasiswa khusus,” jelasnya.
Di tengah suasana haru, semangat solidaritas juga datang dari karya seni. Eprisa Nova Rahmawati, pelukis difabel UMP, turut menyumbangkan karya lukisannya untuk dilelang. Seluruh hasil penjualan akan didonasikan kepada korban bencana di Aceh dan Sumatera.
“Karena kita ingin melakukan pelelangan untuk saudara-saudara kita di Sumatera, jadi spesial hari ini saya melukis kondisi Sumatera sekarang. Langitnya mendung, banjir bandang dengan kayu gelondongan. Ini mengingatkan kita pentingnya menjaga alam,” kata Eprisa.
Pameran berlangsung selama dua hari di Gedung Rektorat UMP. Pengunjung bisa melihat dan membeli karya-karyanya, yang seluruhnya dikhususkan untuk kegiatan kemanusiaan.













