Pada malam hari, panggung festival diramaikan penampilan seniman dalam dan luar negeri, di antaranya Yuliana Mar dari Meksiko, Rodrigo Parejo, grup Yamato No Tamashii dari Jepang, serta kolaborasi kesenian lokal seperti Lengger, Calung, dan Ketoprak Desa Kaliori.
Memasuki hari kedua, festival menampilkan sepuluh pertunjukan meliputi musik, tari, dan sastra. Diskusi budaya bersama Elisabeth D Inandiak membuka rangkaian, disusul penampilan sanggar seni dari Banyumas, Purwokerto, Cilacap, Purbalingga, hingga Jakarta. Hadir pula seniman internasional seperti Walter Sebastian Vities dari Argentina dan maestro kendang Daeng Serang dari Makassar.
Malam puncak ditutup dengan kolaborasi lintas negara bertajuk Golden Water (Ogo no Mizu), melibatkan Dewandaru Dance Company, Kulu-kulu, Lambangsari Group, Rianto Dance Studio, serta seniman Jepang.
Menurut Rianto, festival ini bukan hanya pentas seni, melainkan ruang pertemuan budaya dan semangat ekologi.
“Kolaborasi ini membuka dialog lintas budaya lewat kesenian serta memberi pengalaman kreatif bagi seniman muda, yang diharapkan melahirkan karya penting di masa mendatang,” jelasnya.
Dengan tema “Nguripi, Ngruwat Serayu”, Bisik Serayu Festival 2025 menjadi bukti bahwa tradisi, seni pertunjukan, dan kepedulian lingkungan dapat berpadu. Serayu bukan sekadar sungai, melainkan urat nadi kehidupan yang patut dijaga bersama.













