“Pertama itu kenaikan lifting kita itu di 2008, itu karena ada (Lapangan) Banyu Urip. Kemudian 2015-2016, setelah itu tidak pernah lagi lifting kita mencapai target APBN. Alhamdulillah, kali ini kita tercapai,” lanjut Bahlil.
Pemerintah menilai capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sinyal awal kebangkitan sektor hulu migas nasional. Untuk menjaga momentum, Kementerian ESDM telah menetapkan target jangka menengah dan panjang yang ambisius, yakni peningkatan lifting minyak dan gas bumi secara bertahap hingga 1 juta barel per hari pada 2030.
Dalam rangka mempercepat pencapaian target tersebut, sejumlah langkah strategis disiapkan. Salah satunya adalah percepatan proses perizinan bagi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang saat ini masih berada dalam tahapan administrasi dan persetujuan.
Selain perizinan, pemerintah juga mendorong ekspansi eksplorasi migas melalui penawaran 61 wilayah kerja baru kepada pelaku usaha. Upaya ini diharapkan dapat memperluas basis cadangan migas nasional dan menarik investasi baru di sektor hulu.
Langkah berikutnya adalah optimalisasi teknologi produksi, termasuk penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) dan horizontal fracking untuk meningkatkan tingkat perolehan minyak dari lapangan-lapangan eksisting. Di sisi regulasi, pemerintah juga melakukan penyederhanaan aturan, evaluasi skema insentif, serta integrasi sistem perizinan agar iklim investasi migas menjadi lebih kompetitif dan efisien.












