Lapak bibit ini tidak hanya memproduksi tanaman siap jual, tetapi juga sudah memasuki masa panen. Menurut Ruslan, satu lahan seluas 8.500 meter persegi mampu menampung sekitar 3.500 pohon.
“Dengan harga Rp25 ribu per bibit, omset yang kami dapat mencapai Rp130–150 juta per bulan,” jelas Ruslan.
Proses budidaya dari bibit hingga berbuah pertama membutuhkan waktu 8–9 bulan, dengan potensi panen dua kali setahun. Anggur hasil budidaya lokal ini tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga berpeluang mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam kesempatan itu, Budisatrio, Gus Ipul, dan Agus Jabo turut memetik serta mencicipi langsung hasil panen.
“Enak sekali. Luar biasa,” ujar Budisatrio sambil menikmati anggur segar.
Selain Ruslan, pengelola lainnya, Adit, mengungkapkan tingginya permintaan pasar terhadap bibit anggur.
“Permintaan bibit kami tinggi, bisa mencapai satu ton per hari. Namun lahan kami terbatas. Harapan kami ada dukungan untuk memperluas perkebunan agar usaha ini semakin berkembang,” ujarnya.
Selain memproduksi bibit, Karang Taruna Desa Sukahati juga mengembangkan teknik grafting atau sambung batang anggur. Metode ini diyakini mampu menghasilkan varietas anggur dengan kualitas lebih baik.












