Salah satu guru, Luspita, menjelaskan bahwa sekolah memang menanamkan nilai anti-bullying dalam setiap pembelajaran. “Materi-materi yang diberikan juga menyisipkan tentang pencegahan perundungan. Hal ini dilakukan supaya perundungan tidak terjadi di sekolah ini,” ujarnya.
Kenyamanan yang tercipta membuat Gressella semakin disiplin. Ia kini terbiasa menjalani rutinitas teratur, mulai dari bangun pagi, membersihkan kamar, beribadah, belajar, hingga tidur malam.
“Sholatnya di sini bisa rajin lima waktu, di rumah tidak bisa. Di sini juga lebih bisa mengatur waktu daripada di rumah,” jelasnya.
Selain itu, ia juga mendapatkan fasilitas yang layak: kamar asrama, makanan bergizi tiga kali sehari, ruang kelas ber-AC, hingga akses perpustakaan keliling dari Perpusda Malang.
Meski jauh dari keluarga, rasa rindunya terobati lewat video call bersama ibu dan adik-adik, dengan pendampingan wali asuh. Sesekali ibunya datang menjenguk, menjadi momen berharga bagi keduanya.
Di balik perjuangannya, Gressella menyimpan cita-cita sederhana: menjadi teknisi mesin. Keinginannya berakar dari sang kakek yang dulu membuka bengkel kecil, serta almarhum ayahnya yang piawai memperbaiki motor.
“Nanti kuliahnya mau ambil teknik mesin kalau bisa. (Harapanku) jadi ahli teknisi mesin,” ungkapnya penuh semangat.
Kisah Gressella adalah potret nyata bagaimana seorang remaja mampu bangkit dari keterpurukan. Dari kehilangan ayah, tekanan ekonomi, hingga trauma bullying, ia kini menemukan rumah baru untuk tumbuh di Sekolah Rakyat.
Baginya, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan ruang aman untuk membangun kembali mimpi yang sempat terhenti. Perjalanan Gressella menjadi bukti bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk belajar, tumbuh, dan meraih masa depan lebih baik.












