Kesempatan menempuh pendidikan menengah datang secara tidak terduga. Awalnya, seorang teman Adelia menolak tawaran masuk Sekolah Rakyat. Tanpa ragu, ia mengambil peluang itu.
“Senang banget. Langsung kebayang akhirnya mimpiku bisa terwujud, bisa ngelanjutin sekolah,” katanya dengan mata berbinar.
Sekolah Rakyat memberinya harapan untuk meraih cita-cita besar. “Cita-citaku ingin jadi hakim. Karena ayah sering KDRT akibat narkoba. Aku ingin menegakkan keadilan,” ucap Adelia tegas.
Selain itu, ia juga bermimpi sederhana namun penuh makna: bisa berkumpul kembali bersama ayah, ibu, nenek, dan adik-adiknya dalam satu foto keluarga.
Bagi Adelia, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Asrama ini menjadi rumah kedua, ruang untuk tumbuh, serta wadah mengasah kemampuan. Ia menemukan lingkungan yang mendukung, akses pendidikan gratis, hingga gizi yang terjamin.
Sekolah Rakyat memang dirancang untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Konsep asrama dipadukan dengan kurikulum berkualitas, sehingga setara dengan sekolah unggulan.
Tahun ini, Kementerian Sosial menargetkan 165 Sekolah Rakyat rintisan beroperasi di berbagai daerah, dengan daya tampung lebih dari 15 ribu siswa.
Program ini tak hanya memberi akses sekolah gratis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan terpadu. Siswa mendapat layanan kesehatan gratis, makanan bergizi, hingga jaminan kesehatan PBI JK.
Sementara itu, orang tua mereka memperoleh bantuan tambahan seperti perbaikan rumah, kesempatan menjadi anggota Kopdes Merah Putih, akses program 3 juta rumah, serta berbagai program pemberdayaan ekonomi.













