Ia menilai bahwa ekosistem olahraga yang kuat akan mendorong tumbuhnya berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur perlengkapan olahraga hingga media dan event organizer.
“Pengembangan sport industry juga layak mendapatkan perhatian dan menjadi fokus utama negara kita, karena ini akan menumbuhkan sektor manufaktur perlengkapan olahraga, manajemen event, media dan berbagai jenis usaha berbasis kreatifitas yang membuat eksosistem olahraga akan berjalan berkelanjutan,” pungkasnya.
Keberhasilan penyelenggaraan MotoGP 2025 Mandalika menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sport tourism mampu membawa dampak ekonomi besar. Ajang internasional tersebut mencatat rekor baru dengan total 140.324 penonton serta menciptakan perputaran uang mencapai Rp 4,8 triliun. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta terbukti memberikan kontribusi signifikan bagi masyarakat Lombok dan Nusa Tenggara Barat.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyebut MotoGP Mandalika bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga sarana penting untuk menampilkan pariwisata Indonesia ke panggung dunia.
Ia mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga tingkat okupansi hotel di kawasan The Mandalika mencapai 100 persen. Lonjakan permintaan perjalanan bahkan membuat sejumlah maskapai menambah 44 penerbangan ekstra, terdiri atas Garuda Indonesia (18), Citilink (10), AirAsia (8), Pelita Air (2), dan Wings Air (6).
“Ini saya rasa momen yang bersejarah ya karena kita pecah telur, pecah rekor, 140 ribu pengunjung… peningkatan tenaga kerja lokal ini luar biasa. Ajang ini juga membuktikan bahwa kekayaan budaya dan kearifan lokal Indonesia dapat terintegrasi dalam pengalaman olahraga global,” jelas Maya Watono.
Menurutnya, keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sportainment unggulan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.












