Di sektor kesehatan, lanjutnya, koperasi bercita-cita membangun dapur sehat bagi 500 keluarga petani. Selama ini, pengolahan gula masih dilakukan di dapur tradisional tanpa cerobong asap, memicu risiko ISPA, terutama bagi perempuan.
“Kami ingin dapur bersih dengan lantai keramik dan cerobong asap, agar kesehatan petani terjaga. Ini bagian dari martabat hidup yang layak,” tambahnya.
Bagi Prof. Waryono Abdul Ghofur, apa yang terjadi di Desa Pageraji adalah contoh konkret bagaimana desa bisa maju tanpa harus kehilangan warganya karena urbanisasi.
“Ini pelajaran penting. Anak-anak muda desa membuktikan bahwa untuk maju tidak harus meninggalkan kampung. Justru dengan tetap di desa, mereka memajukan masyarakatnya sendiri,” ujar Prof. Waryono, Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama RI.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan zakat secara terorganisir memiliki daya ungkit besar bagi ekonomi desa. “Zakat itu sah diberikan langsung, tapi ketika dikumpulkan dan dikelola secara profesional, manfaatnya berlipat. Ini sejalan dengan PMA Nomor 16 Tahun 2025 tentang pendayagunaan zakat untuk usaha produktif,” tegasnya.
Prof. Waryono bahkan membuka peluang Desa Pageraji dikukuhkan sebagai Kampung Zakat, sejalan dengan target nasional pembentukan 1.000 kampung zakat.
Sementara menurut Direktur Laznas Mandiri Amal Insani, Zaenal Abidin, menekankan bahwa lembaganya tidak datang sebagai aktor utama, melainkan katalis percepatan.
“Kami tidak masuk dari nol. Masyarakat sudah bergerak. Kami hanya mempercepat reaksi. Dana yang kami kelola adalah titipan para muzaki, terutama karyawan Bank Mandiri,” ujar Zaenal Abidin.
Ia mengingatkan bahwa tantangan terbesar dari kemajuan adalah keserakahan. “Dana ini harus dijaga agar terus bergulir. Tolong dijaga, karena bagaimanapun ini akan jadi pahala yang terus mengalir buat para donatur. Jadi dijaga supaya jangan berhenti,” katanya.
Dukungan juga datang dari Nartam Andrea Nusa, Anggota DPRD Kabupaten Banyumas Komisi I, yang lahir dari keluarga petani penderes. ia mengatakan jika dirinya merasakan betul apa yang selama ini dialami oleh para petani penderes.
“Saya merasakan sendiri pahitnya jadi penderes. Saya akan mengawal program ini dan mengalokasikan APBD untuk mendukung petani gula kelapa. Kalau bukan kita yang mengubah, siapa lagi?” tegas Nartam Andrea Nusa dalam kesempatan tersebut.












