BANYUMAS, Myinfo.ID – Pagi di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, selalu dimulai dengan suara alam. Di sela embun yang masih menggantung, para petani penderes memanjat pohon kelapa setinggi puluhan meter untuk mengambil air nira, bahan baku gula kelapa yang telah menghidupi desa ini lintas generasi. Namun, di balik ketekunan itu, tersimpan realitas getir, kerja berat dengan risiko tinggi yang kerap tak sebanding dengan penghasilan.
Kondisi inilah yang menjadi latar belakang terbentuknya Koperasi Abhinaya Karya Mandiri, sebuah koperasi yang lahir dari rahim desa dan digerakkan oleh anak-anak petani penderes. Selasa (6/1/2026), upaya kolektif tersebut mendapat perhatian nasional ketika Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Waryono Abdul Ghofur, melakukan kunjungan langsung ke koperasi binaan Laznas Mandiri Amal Insani (MAI) itu.
Ketua Koperasi Abhinaya Karya Mandiri, Muhammad Fathul Ghina, menjelaskan bahwa koperasi ini bukan proyek instan. Ia berakar dari inisiatif pemuda desa yang lebih dulu mendirikan CV Java Agro Mandiri pada 2018.
“Potensi gula kelapa di Desa Pageraji ini luar biasa, tapi dulu pendapatan petani sangat rendah. Dari keprihatinan itu kami membangun wadah agar petani bisa lebih sejahtera,” ujar Muhammad Fathul Ghina, Ketua Koperasi Abhinaya Karya Mandiri di Tataran Kopi Desa Pageraji.
Menurutnya, CV Java Agro Mandiri berperan membuka akses pasar, sementara koperasi yang berdiri resmi pada 2022 fokus pada pendampingan petani dan penyerapan hasil produksi. Saat ini, koperasi menaungi 500 petani gula kelapa dalam satu desa penuh. Produk mereka diserap, dikontrol mutunya, lalu dipasarkan hingga ke pasar ekspor.
Titik balik penting terjadi ketika koperasi berkolaborasi dengan Laznas Mandiri Amal Insani melalui skema zakat produktif. Dana zakat tidak lagi berhenti sebagai bantuan konsumtif, melainkan diputar menjadi modal usaha untuk membeli gula petani, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas pasar.
“Kami ingin petani yang semula mustahik bisa naik kelas menjadi muzaki. Zakat ini kami kelola agar bergulir, bukan habis sekali pakai,” kata Fathul.
Dari setiap kilogram gula yang diekspor, koperasi menyisihkan Rp500 untuk program pemberdayaan berkelanjutan. Dana itu dikelola dalam lima aspek utama, yakni ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial kapital, dan infrastruktur.
Ia mengatakan jika salah satu tantangan terbesar petani gula kelapa adalah regenerasi. Pohon kelapa tua menjulang hingga 25 meter, membuat aktivitas menderes berisiko tinggi dan kurang diminati generasi muda.
“Kami mendorong penanaman kelapa genjah, yang tingginya hanya 2–3 meter dan sudah bisa disadap dalam usia 5–7 tahun. Harapannya, anak muda dan ibu-ibu pun bisa ikut menderes tanpa risiko besar,” jelas Fathul.












