“Generasi muda memiliki energi dan kreativitas. Jika dikolaborasikan dengan pengetahuan tradisional, akan lahir inovasi relevan dengan tantangan zaman,” katanya.
Dharma Bhakti Patanjala juga mendorong pembentukan Forum Lintas Generasi yang memadukan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern. Selain itu, pihaknya mengusulkan penyusunan Pustaka Digital Konservasi Budaya sebagai pusat pembelajaran, serta menggelar festival tahunan yang mempertemukan praktisi konservasi tradisional dan inovator muda.
Indaru menolak praktik konservasi yang mengabaikan nilai budaya lokal. Ia mengecam eksploitasi sumber daya alam yang merusak situs budaya serta marginalisasi pengetahuan tradisional dalam kebijakan lingkungan.
Memanfaatkan momentum HKAN 2025, Dharma Bhakti Patanjala mengajak pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor swasta memulihkan ekosistem kritis, terutama mata air dan hutan, dengan melibatkan masyarakat adat melalui pendekatan partisipatif.












