News  

Kearifan Budaya untuk Iklim: Komunitas Patanjala Jaga Mata Air dan Serap Karbon

Dr. Indaru S Nurprojo - Dewan Pembina Komunitas Patanjala

Dalam cerita folkor setempat sering disebut wilayah pegunungan Simalaya. Secara administratif, ia melintasi beberapa kabupaten seperti Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Kebumen. Sebagai kawasan hulu dari beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS) besar, setiap titik ekologi di wilayah ini memegang peran krusial bagi keseimbangan lingkungan regional.

Solusi Iklim yang Murah dan Penuh Manfaat

Aksi Komunitas Patanjala adalah perwujudan nyata dari Solusi Berbasis Alam (Nature-Based Solution/NbS). NbS adalah pendekatan untuk mengatasi tantangan sosial dengan melindungi, mengelola, dan memulihkan ekosistem secara berkelanjutan. Hal ini karena; pertama, murah dan efektif. Dibandingkan dengan teknologi penangkap karbon dari udara yang masih mahal, menanam dan merawat pohon serta melestarikan tanah adalah biaya yang jauh lebih terjangkau dengan efektivitas yang teruji.

Kedua, banyak manfaat tambahan (Co-Benefits), Selain menyerap karbon, aksi ini menghasilkan air bersih yang berkelanjutan, mengurangi risiko banjir dan longsor, melestarikan keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Prof. Damayanti Buchori, pakar ekologi dari Universitas Gadjah Mada, menekankan, “Pendekatan berbasis budaya seperti ini sangat powerful karena ia membangun ketahanan komunitas secara holistik. Mereka tidak hanya memitigasi perubahan iklim, tetapi juga beradaptasi terhadap dampaknya dengan memiliki sumber air dan pangan yang lebih terjamin.”

Kisah Komunitas Dharma Bhakti Patanjala mengajarkan kita bahwa solusi untuk krisis iklim tidak selalu harus datang dari laboratorium berteknologi tinggi. Seringkali, solusi itu telah tertanam dalam kearifan lokal masyarakat yang hidup harmonis dengan alam.

Dukungan dari pemerintah, LSM, dan sektor swasta sangat dibutuhkan untuk mendokumentasikan, meneliti, dan menskalakan praktik-praktik baik semacam ini. Skema pembayaran jasa lingkungan (PES) atau karbon kredit dapat menjadi insentif tambahan yang adil untuk komunitas yang telah menjadi pahlawan iklim tanpa banyak diketahui.

Pada akhirnya, melestarikan mata air bagi Komunitas Patanjala bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Itu adalah sebuah aksi global. Setiap tetes air jernih yang mengalir adalah bukti bahwa dari desa-desa, dari budaya yang lestari, kita dapat menemukan cara untuk mendinginkan planet kita.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow