News  

Kearifan Budaya untuk Iklim: Komunitas Patanjala Jaga Mata Air dan Serap Karbon

Dr. Indaru S Nurprojo - Dewan Pembina Komunitas Patanjala

Komunitas Dharma Bhakti Patanjala misalnya menggunakan pagelaran tari Hastabrata dan aturan adat untuk menyosialisasikan praktik pelindungan mata air — strategi yang mengikat emosi, identitas, dan tindakan sehari-hari. Model seperti ini mengurangi kebutuhan pengawasan eksternal dan memastikan transfer pengetahuan antargenerasi.

Konsep serupa—situs alam sakral atau kawasan terlindungi oleh norma budaya—telah diakui secara internasional sebagai alat konservasi yang ampuh karena mereka menggabungkan perlindungan ekologi dan budaya. Dukungan terhadap wilayah sakral dapat memperkuat konservasi lanskap yang menyimpan karbon.

Dari Mata Air ke Karbon

Lalu, di mana kaitannya dengan karbon? Ilmu pengetahuan ekologi modern mampu menjelaskan mata rantai yang menghubungkan aksi Komunitas Patanjala dengan regulasi iklim global. Hutan yang di jaga adalah “Bank Karbon” Alami.

Dengan melarang penebangan dan merestorasi lahan, komunitas ini menjaga dan meningkatkan biomassa hutan. Setiap pohon yang tumbuh adalah mesin penyerap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis. Karbon itu kemudian disimpan dalam kayu, daun, dan akar. Mencegah deforestasi berarti mencegah pelepasan karbon yang tersimpan ini ke atmosfer. Dengan kata lain, ketika vegetasi direstorasi atau dijaga, lebih banyak karbon ditangkap dari atmosfer dan disimpan jangka panjang di biomassa dan tanah.

Tanah sehat adalah “Brankas Karbon” yang terlupakan. Praktik konservasi tanah yang Komunitas Patanjala lakukan, seperti menanam penutup tanah dan mencegah erosi, secara signifikan meningkatkan kandungan bahan organik tanah (Soil Organic Carbon). Tanah yang kaya akan bahan organik adalah penyimpan karbon yang sangat besar dan stabil.

Menurut Dr. Arief Wijaya, ahli perubahan iklim dari World Resources Institute Indonesia, “Lahan yang dikelola dengan praktik konservasi dan restorasi tidak hanya produktif secara pertanian, tetapi juga berperan sebagai carbon sink yang crucial. Apa yang dilakukan komunitas seperti Patanjala pada dasarnya adalah memelihara brankas karbon ini.”

Pada periode tahun ini, Komunitas Patanjala melaksakan konservasi mata air berbasis budaya untuk menghubungkan pada titik-tituk ekologi khususnya di wilayah Pegunungan serayu utara. Pegunungan Serayu Utara adalah jajaran pegunungan yang membentang di sebelah utara dari Gunung Slamet hingga Dataran Tinggi Dieng, membentuk tulang punggung (backbone) Jawa Tengah bagian barat.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow