Oleh: Dr. Indaru S Nurprojo – Dewan Pembina Komunitas Patanjala
Di tengah hiruk-pikuk pembahasan teknologi canggih untuk menangani krisis iklim, sekelompok orang di kaki Gunung Gora (G. Slamet) justru telah lama mempraktikkan solusi yang sederhana, murah, dan efektif.
Mereka adalah Komunitas Dharma Bhakti Patanjala, yang dengan tekun melestarikan mata air dan lahan di wilayah mereka. Yang mungkin tidak mereka sadari sepenuhnya, tradisi budaya yang mereka jaga ternyata bukan hanya memancarkan air jernih, tetapi juga menjadi senjata ampuh untuk menyerap dan menyimpan karbon, sang pemicu utama pemanasan global.
Bagi banyak komunitas di Indonesia, termasuk Komunitas Dharma Bhakti Patanjala di Purbalingga, mata air juga adalah warisan budaya — bagian dari ritus, cerita, dan tata kelola lokal yang disebut kearifan lokal.
Upaya komunitas ini menggabungkan care budaya (ritual, seni, aturan adat) dengan tindakan ekologi sederhana: reboisasi di zona tangkapan hujan, perbaikan vegetasi riparian (sepanjang aliran), pemasangan cek-dam kecil, dan penguatan aturan akses yang melindungi area sumber air. Inisiatif semacam ini bukan hanya menjaga pasokan air — mereka juga berfungsi sebagai nature-based solutions (NbS) untuk mitigasi perubahan iklim.
Kearifan Budaya
Komunitas Dharma Bhakti Patanjala tidak memandang hutan dan mata air sebagai sekadar sumber daya, tetapi sebagai entitas yang hidup dan sakral. Ritual-ritual budaya, aturan adat (awig-awig), dan kerja bakti menjadi instrumen konservasi mereka. Mereka melarang penebangan pohon di sekitar sumber air, memulihkan vegetasi asli, dan membangun infrastruktur sederhana untuk menahan erosi dan memperlambat aliran air. Apa yang dilakukan komunitas ini adalah contoh sederhana dari “konservasi berbasis budaya.”
Nilai-nilai spiritual dan sosial menjadi penggerak utama, membuat upaya pelestarian menjadi lebih berkelanjutan karena didorong oleh rasa memiliki dan kewajiban moral, bukan hanya insentif ekonomi.
Pendekatan yang mengikat tindakan konservasi pada ritual, seni, dan norma lokal (missal, tari dan adat yang memperingati atau “mengurus” mata air) akan meningkatkan kepatuhan jangka panjang.












