“Untuk itulah pendidikan antikorupsi tidak hanya menjadi tanggung jawab orang dewasa. Anak-anak sebagai generasi penerus juga harus dibekali nilai kejujuran, integritas, dan keberanian menyampaikan kebenaran,” ujarnya. Ia berharap nilai tersebut tertanam sejak dini, “agar kelak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berani mengatakan yang benar, menolak hal yang keliru, sekaligus siap membangun Banyumas yang lebih bersih dan berkeadilan,” lanjutnya.
Sekretaris Inspektorat Kabupaten Banyumas, Adi Arianto, menjelaskan bahwa lomba menggambar tahun ini menarik minat besar dari para pelajar. Panitia awalnya membatasi jumlah peserta sebanyak 250 anak, terdiri dari 125 siswa SD/MI dan 125 siswa SMP/MTs. Namun, antusiasme peserta membuat jumlah pendaftar terus bertambah hingga hari pelaksanaan.
“Sebenarnya panitia membatasi peserta yaitu 125 siswa SD/MI dan 125 siswa SMP/MTs. Namun saat pelaksanaan masih ada siswa yang mendaftar,” katanya.
Adi menambahkan bahwa menggambar dipilih sebagai media edukasi karena seni visual mudah diterima oleh anak-anak. Melalui gambar, nilai-nilai moral dapat dipahami secara lebih ringan namun tetap bermakna.
“Melalui menggambar, nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian dapat ditanamkan dengan cara yang menyenangkan. Adanya lomba ini, tidak hanya mengasah kreativitas anak-anak, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang jujur memiliki arti besar bagi masa depan bangsa,” tegasnya.
Sebelum mulai berkarya, seluruh peserta mendapatkan pembekalan tentang pendidikan antikorupsi dari Psikolog Dr. Henie Kurniawati, MA. Materi disampaikan menggunakan pendekatan psikologis anak, sehingga mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, acara juga dimeriahkan oleh penampilan Duta Integritas Banyumas, yang turut memberikan motivasi agar pelajar semakin memahami pentingnya nilai kejujuran dan integritas dalam kehidupan.













