Dari sisi transportasi, inflasi turut terdorong oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi di awal Maret serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan balik Lebaran.
“Momentum mudik dan arus balik Lebaran juga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap angkutan antarkota serta penerapan tarif musiman,” jelasnya.
Sementara itu, secara tahunan, inflasi juga dipengaruhi faktor low base effect, yakni perbandingan dengan periode tahun sebelumnya yang memiliki basis harga lebih rendah akibat kebijakan diskon tarif listrik.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banyumas Raya terus memperkuat sinergi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) dengan strategi 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Berbagai langkah telah dilakukan sepanjang Maret 2026, seperti pelaksanaan gerakan pangan murah, pasar tani, serta operasi pasar di sejumlah titik. Pemantauan harga dan pasokan juga dilakukan secara intensif di pasar tradisional, pasar modern, SPBU, hingga SPBE.
Selain itu, upaya pengendalian ekspektasi masyarakat dilakukan melalui edukasi belanja bijak di berbagai kanal, mulai dari media luar ruang hingga radio dan platform digital.
Ke depan, TPID Banyumas Raya akan terus memperkuat langkah pengendalian inflasi, termasuk mendorong produksi pangan, pengembangan petani milenial, hingga kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga.
Dengan berbagai langkah tersebut, inflasi di wilayah Banyumas Raya diharapkan tetap terkendali dan berada dalam kisaran target nasional.













