Cecep menegaskan, metode hisab dan rukyat di Indonesia berjalan beriringan.
“Kelaziman di Indonesia, hisab memberikan informasi awal, sementara rukyat menjadi konfirmasi di lapangan. Namun jika secara hisab posisi hilal belum memenuhi kriteria visibilitas, maka secara teoritis hilal tidak mungkin dapat dirukyat,” tegasnya.
Ia juga memaparkan bahwa ijtimak atau konjungsi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB. Sementara itu, pemantauan hilal dilakukan di 117 titik di seluruh Indonesia.
Sebagai gambaran, di Jakarta Pusat saat matahari terbenam pukul 18.03 WIB, tinggi hilal tercatat sekitar 1,95 derajat dengan elongasi 5,71 derajat. Sementara di Sabang, Aceh, tinggi hilal mencapai 3,13 derajat dengan elongasi 6,10 derajat namun masih belum melewati ambang batas.
“Karena tidak terpenuhinya kedua parameter tersebut secara bersamaan, maka hilal menjelang awal Syawal 1447 H secara teoritis diprediksi tidak dapat dirukyat,” ungkap Cecep.
Dengan kondisi tersebut, peluang besar mengarah pada penyempurnaan bulan Ramadan menjadi 30 hari.
“Jika posisi hilal belum mencapai batas imkanur rukyat, maka secara hisab bulan Ramadan diistikmalkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, secara hisab awal Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026,” pungkasnya.













