Pada sidang terbuka akhir 2025, risetnya mendapat apresiasi dari para pembimbing dan penguji lintas disiplin. Penelitian tersebut dinilai memberi kontribusi penting bagi pengembangan layanan paliatif di negara berkembang, terutama yang memiliki keterbatasan sumber daya, tetapi kuat dalam jejaring keluarga.
Sebagai penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan), dr. Bagas menegaskan bahwa studinya bukan sekadar capaian akademik pribadi, melainkan amanah untuk memberi dampak nyata di Tanah Air.
“Saya berjanji akan berkolaborasi dengan komunitas untuk mengembangkan program pelayanan paliatif rumah berbasis komunitas yang sensitif budaya lokal. Kami juga sedang menyusun buku panduan komunikasi sensitif budaya untuk pasien penyakit serius berdasarkan temuan penelitian ini,” terang dr. Bagas dengan optimisme tinggi, yang kini mulai aktif kembali mengajar di Unsoed sejak 2 Maret 2026.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk konkret penerjemahan hasil riset menjadi solusi praktis bagi masyarakat.
Dekan Fakultas Kedokteran Unsoed, Dr. dr. MM Rudi Prihatno, M.Kes., menilai capaian tersebut membuktikan bahwa lulusan Unsoed mampu bersaing secara global tanpa kehilangan pijakan pada persoalan bangsa.
“Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi dr. Bagas dan keluarga, tetapi juga bagi kami di Unsoed,” paparnya.
Keberhasilan dr. Bagas sekaligus mempertegas bahwa pengembangan ilmu kedokteran tidak selalu identik dengan teknologi canggih atau fasilitas modern. Dalam konteks Indonesia, pendekatan berbasis keluarga dan nilai budaya justru menjadi kekuatan utama yang dapat memperkaya praktik medis.
Dari Purwokerto menuju Amsterdam, gagasan tentang perawatan paliatif berbasis kearifan lokal menunjukkan bahwa sentuhan keluarga, empati, dan nilai kebersamaan dapat menjadi fondasi penting dalam menghadirkan layanan kesehatan yang lebih manusiawi dan relevan bagi masyarakat Indonesia.













