PURWOKERTO, MyInfo.ID – Perawatan paliatif berbasis kearifan lokal menjadi gagasan yang mengantarkan dosen Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menorehkan prestasi akademik di kancah internasional. Dari ruang akademik di Purwokerto hingga forum ilmiah di Amsterdam, dr. Raditya Bagas Wicaksono menghadirkan pendekatan baru yang menempatkan keluarga sebagai pusat pengambilan keputusan dalam layanan kesehatan pasien penyakit serius.
Isu ini menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan yang tidak hanya fokus pada penyembuhan, tetapi juga kualitas hidup pasien dan keluarga.
Istilah perawatan paliatif memang lebih dikenal di kalangan tenaga kesehatan. Namun menurut penjelasan World Health Organization (WHO), perawatan paliatif adalah pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang menghadapi penyakit berat, dengan mengurangi penderitaan secara fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual.
Pertanyaannya, apakah perawatan ini hanya bisa dilakukan oleh tenaga medis? Dr. dr. Raditya Bagas Wicaksono atau dr. Bagas menawarkan sudut pandang berbeda.
Dosen ahli bioetika Unsoed ini memperkenalkan model perawatan paliatif berbasis rumah yang memadukan pendekatan etnografi dan nilai-nilai budaya Indonesia. Dalam model tersebut, keluarga tidak sekadar menjadi pendamping, tetapi aktor utama dalam proses diskusi dan pengambilan keputusan medis.
“Dalam konteks budaya Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan musyawarah keluarga, pendekatan ini adalah perspektif baru dalam layanan kesehatan yang tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan kearifan lokal di Indonesia,” papar dosen yang sudah bekerja di Unsoed Sejak 2019 ini.
Gagasan tersebut lahir dari riset doktoral yang ia tempuh di UMC yang terafiliasi dengan University of Amsterdam (UoA), Belanda. Disertasinya berjudul “Home Palliative Care in Indonesia : An Ethnographic Study of Family Involvement and Local Values.”
Menariknya, dr. Bagas menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 3 tahun 9 bulan, lebih cepat dibandingkan rata-rata masa studi doktoral di Belanda yang umumnya berkisar 4 hingga 8 tahun.













