News  

Haedar Nashir Ajak Hentikan Perdebatan Status Bencana, Fokus Bantu Korban di Sumatera

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir. Foto: Arbi Anugrah

Haedar juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah sejak hari pertama bencana telah terlibat aktif dalam berbagai program kemanusiaan untuk membantu para korban di wilayah terdampak. Selain menyalurkan bantuan langsung, Muhammadiyah juga terus melakukan penggalangan dana guna memastikan dukungan berkelanjutan hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Kita punya pengalaman panjang, mulai dari tsunami Aceh, gempa Jogja, gempa Sumatera Barat, hingga gempa Sulawesi Tengah. Maka dari itu, energi kolektif kita harus kita manfaatkan,” ujarnya.

Lebih jauh, Haedar mengingatkan bahwa pembangunan bangsa tidak semata-mata berorientasi pada aspek fisik. Nilai-nilai moral, kebangsaan, dan kemanusiaan harus berjalan seiring agar pembangunan tidak kehilangan ruhnya.

“Di lagu Indonesia Raya ada kalimat ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’. Kalau bangun fisik terus tapi tertinggal jiwanya, nanti keropos. Sebaliknya, membangun jiwanya tapi fisiknya tertinggal juga membuat kita terbelakang,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Haedar menekankan pentingnya Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa sebagai nilai hidup yang benar-benar dipraktikkan, bukan sekadar slogan normatif. Ia berharap umat beragama dapat menjadi teladan dalam menciptakan perilaku yang mencerahkan dan menyejukkan.

Selain itu, Haedar juga menyoroti tantangan di era media sosial yang rawan memicu konflik antarkelompok. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap saling menyerang, merendahkan, atau menjelekkan suku dan kelompok lain.

“Jangan sampai saling menyerang antarsuku, menjelekkan, atau merendahkan. Itu bibit perpecahan di tubuh bangsa. Sudah tertimpa musibah, lalu kita terpecah, itu kerugian besar,” ujarnya.

Haedar menutup pesannya dengan ajakan untuk memperkuat persatuan nasional. Menurutnya, setiap suku bangsa memiliki kelebihan dan kekurangan yang justru menjadi kekayaan Indonesia.

“Setiap suku bangsa punya keunggulan dan kekurangan. Mari kita bersatu dalam kelebihan dan kekurangan itu menjadi Indonesia, bukan menjadi suku-suku bangsa yang saling bertikai,” pungkasnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow