Ia menjelaskan, penanganan pasca-tragedi ini dilakukan dalam tiga tahap utama: evakuasi, kedaruratan, dan rehabilitasi-rekonstruksi.
“Pertama adalah tahap evakuasi dan kedaruratan. Saya ingin berterima kasih kepada tim evakuasi, Basarnas, BNPB, Kepolisian, dan TNI yang telah bekerja dengan baik pada masa-masa tersebut,” jelasnya.
Setelah tahapan darurat selesai, proses berlanjut ke masa rehabilitasi dan rekonstruksi yang difokuskan pada pemulihan para korban.
“Rehabilitasi itu pertama difokuskan kepada korban-korban yang sekarang masih memerlukan perhatian bersama, baik itu korban luka berat, sedang, maupun ringan,” urainya.
Berdasarkan data sementara, total korban dalam insiden ambruknya bangunan pesantren tersebut meliputi 63 orang meninggal dunia, 24 orang luka berat, dan 74 orang luka ringan.
“Semua ini tentu akan terus kita dampingi bersama. Baik rehabilitasi medis maupun sosial akan dilakukan secara berkelanjutan,” tegas Gus Ipul.
Ia juga menambahkan, selain penanganan medis, pemerintah akan memberikan perhatian dalam bentuk perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi bagi keluarga korban.
“Kita akan mendampingi keluarga, terutama yang anaknya mengalami luka berat atau amputasi. Semua kebutuhan mereka akan didukung sepenuhnya sesuai arahan Presiden,” tambahnya.
Peristiwa runtuhnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran terjadi pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB, tepat saat para santri tengah menunaikan salat Ashar.
Diduga, struktur lantai atas yang baru dicor tidak mampu menahan beban, menyebabkan seluruh bagian bangunan ambruk hingga ke lantai dasar dan menimpa para santri yang sedang beribadah.












