Addin kembali menegaskan apresiasinya terhadap kinerja Amran.
“TOP, kita dukung semuanya. Pak Mentan luar biasa, dan tadi juga bicara soal mafia pangan. Kita gerak bersama-sama,” tandasnya.
Sementara itu, Mentan Amran menegaskan bahwa mafia pangan tidak boleh dibiarkan menguasai ekosistem agribisnis nasional. Berdasarkan investigasi Kementerian Pertanian, ditemukan 212 dari 268 merek beras premium tidak sesuai standar, dan kasus tersebut telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum.
“Kami tidak akan tinggal diam. Mafia pangan ini merugikan petani, memukul konsumen, dan menciptakan ketidakadilan. Negara tidak boleh kalah. Kami akan terus bertindak tegas,” kata Amran.
Ia juga menyoroti persoalan serius lain, yakni peredaran pupuk palsu dan masalah tata kelola pupuk bersubsidi yang menimbulkan kerugian hingga Rp3,2 triliun bagi petani.
“Bayangkan, petani yang hanya bermodal pinjaman KUR harus menanggung kerugian besar karena pupuk yang digunakan tidak memiliki unsur hara. Ini persoalan serius yang harus ditangani kolektif,” tegasnya.
Menurut Amran, kompleksitas persoalan pangan tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Dukungan masyarakat, organisasi kepemudaan, serta elemen sosial seperti GP Ansor dan Banser, diyakini akan memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi petani dari praktik curang mafia pangan.
Dengan sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis dapat mewujudkan kedaulatan pangan nasional sekaligus memperkuat fondasi ekonomi rakyat dari desa.













