Sekolah yang menjadi rujukan di antaranya SMP Negeri 5 Purwokerto, SMP Permata Hati, SMP Al-Irsyad, SD Negeri Arcawinangun 5, SD Negeri Tanjung 1, dan SD Tambak.
Joko juga menegaskan bahwa tidak boleh ada diskriminasi dalam proses pembelajaran.
“Semua anak adalah bagian dari bangsa ini, dan masing-masing memiliki potensi unik yang harus dihargai,” ungkapnya.
Gebyar Inklusi 2025 diisi dengan berbagai kegiatan kreatif seperti senam ceria ABK, lomba fashion show, menari, menyanyi, mewarnai, hingga musikalisasi puisi. Lebih dari 100 peserta ikut berpartisipasi dalam acara ini.
Selain itu, digelar pula talkshow bertajuk “Treatment ABK dalam Pendidikan Inklusif dari Perspektif Psikologis”. Acara ini diikuti oleh 42 guru Bimbingan Konseling (BK) dan 165 orang tua anak berkebutuhan khusus.
“Melalui talkshow ini, kita diingatkan bahwa pendidikan inklusif adalah tanggung jawab bersama. Guru pendamping, orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi,” kata salah satu narasumber.
Menutup sambutannya, Bupati Sadewo mengajak seluruh sekolah, khususnya jenjang SMP, agar terus memperkuat komitmen menyelenggarakan pendidikan inklusif.
“Mari kita wujudkan lingkungan belajar yang ramah, nyaman, dan memberi ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai dengan keunikannya,” pungkasnya.













