News  

Di Jenewa, Sugiono Soroti Stagnasi Perlucutan Senjata Global

Menteri Luar Negeri RI, Sugiono. Foto: Kemlu RI

JENEWA, MyInfo.ID – Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menyampaikan pernyataan nasional pada High-Level Segment Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss, 23 Februari. Dalam forum tersebut, Indonesia menegaskan bahwa perlucutan senjata bukan sekadar agenda diplomatik, melainkan fondasi utama bagi keamanan dan perdamaian dunia.

Dalam pidatonya seperti dikutip dari laman Kemlu RI, Selasa (24/2/2026), Menlu menyoroti kondisi global yang dinilai semakin mengkhawatirkan. Alih-alih menunjukkan kemajuan, agenda perlucutan senjata internasional justru dianggap mengalami kemunduran.

Sugiono menilai ketidakpastian geopolitik yang kian tajam telah menekan multilateralisme dan melemahkan penghormatan terhadap hukum internasional. Kondisi ini, menurutnya, meningkatkan potensi eskalasi konflik.

Salah satu sorotan utama adalah berakhirnya Perjanjian New START, yang sebelumnya menjadi kerangka pengendalian senjata nuklir antara dua negara pemilik arsenal terbesar dunia. Ketiadaan perjanjian tersebut dinilai memperlemah arsitektur pengendalian senjata global dan memperbesar ketidakpastian strategis.

“Di tengah situasi ini, risiko salah perhitungan semakin meningkat,” ujar Menlu Sugiono.

Pernyataan ini menggarisbawahi kekhawatiran Indonesia terhadap potensi ketegangan yang dapat berkembang tanpa mekanisme kontrol yang jelas.

Selain itu, Menlu RI juga menyoroti ketimpangan antara kewajiban negara-negara non-senjata nuklir dalam mencegah proliferasi dengan lambannya kemajuan perlucutan oleh negara pemilik senjata nuklir.

“Perlucutan senjata nuklir justru terkesan opsional, di tengah upaya keras negara-negara non-senjata nuklir melakukan proliferasi,” ungkap Menlu.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow