Syahardiantono juga mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 tidak terjadi aksi terorisme di Indonesia. Kondisi Zero Terrorism Attacks ini telah terjaga secara konsisten sejak 2023.
Keberhasilan menjaga nihil serangan teror dinilai menjadi indikator penting meningkatnya efektivitas strategi kontra-terorisme nasional, sekaligus memperkuat rasa aman masyarakat.
Dalam menjalankan tugasnya, Densus 88 mengombinasikan pendekatan keras (hard approach) dan pendekatan lunak (soft approach). Strategi tersebut dirancang untuk tidak hanya menindak pelaku, tetapi juga memutus mata rantai radikalisasi sejak dini.
Langkah-langkah yang dijalankan antara lain deteksi dini potensi ancaman, sosialisasi nilai kebangsaan, preventive strike terhadap jaringan teror, penyebaran narasi moderat, serta pemberdayaan mantan narapidana terorisme beserta keluarganya agar kembali berintegrasi dengan masyarakat.
Selain itu, Densus 88 juga memperkuat kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat nasional maupun internasional, guna menghadapi dinamika ancaman terorisme yang terus berkembang.












