News  

Demi Sekolah Lebih Dekat, Warga Banyumas Terjang Sungai Tajum Gendong Anak

Warga Banyumas Terjang Sungai Tajum Gendong Anak. Foto: Instagram

Bagi warga yang memilih menyeberang sungai, jarak tempuh menuju sekolah jauh lebih singkat dibandingkan harus memutar melalui jembatan yang ada.

“Kalau muter bisa 15 menit, bahkan bisa setengah jam. Padahal kalau nyebrang paling 5-10 menit sudah nyampe ke sekolah,” tuturnya.

Meski berbahaya, penyeberangan sungai kerap menjadi pilihan karena keterbatasan akses. Namun, Miftah menegaskan bahwa aktivitas tersebut hanya dilakukan saat kondisi air sungai sedang rendah.

“Kalau hujan gede dan air tinggi, ya nggak ada aktivitas penyeberangan. Terpaksa muter,” kata Miftah.

Video viral tersebut kembali menyoroti risiko keselamatan yang harus dihadapi warga, termasuk anak-anak usia sekolah, demi mengakses pendidikan yang seharusnya aman dan layak.

Menurut Miftah, pembangunan jembatan gantung akan membawa dampak besar bagi kehidupan warga, tidak hanya untuk akses pendidikan, tetapi juga aktivitas sosial dan pelayanan pemerintahan desa.

“Kalau ada jembatan gantung, aktivitas sehari-hari bisa lebih baik lagi. Akses ke pusat pemerintah desa juga lebih cepat,” ucapnya.

Ia menyebut, pemerintah desa telah berulang kali mengajukan proposal pembangunan jembatan ke pemerintah kabupaten, namun hingga kini belum membuahkan hasil.

“Proposal-proposals sudah dari dulu, tapi belum dikasih juga,” katanya.

Miftah berharap, perhatian pemerintah dapat segera diwujudkan melalui program Jembatan Merah Putih yang digagas untuk membuka akses wilayah terpencil.

“Ini cuma karena ada program apa jembatan merah putih. Jadi itu kemarin kan kita upload lagi. Mudah-mudahan dapat,” pungkasnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow