Kemenangan Dembele di Ballon d’Or juga sarat kejutan. Sebelumnya, ia tidak pernah masuk daftar nominasi ajang bergengsi ini. Baru kali ini namanya terpilih—dan langsung keluar sebagai pemenang.
Fakta ini menambah bobot cerita emosionalnya. Di atas panggung, ia meneteskan air mata sembari mengucapkan terima kasih kepada Lionel Messi, mantan rekan setim di Barcelona yang ia sebut sebagai mentor penting dalam kariernya.
“Saya belajar banyak darinya. Barcelona adalah klub impian saya, dan bisa bermain bersama Messi adalah anugerah,” katanya.
Gelar ini sekaligus menempatkan Dembele dalam catatan sejarah sepak bola dunia. Ia menjadi pemain Prancis keenam yang meraih Ballon d’Or, menyusul Raymond Kopa, Michel Platini, Jean-Pierre Papin, Zinedine Zidane, dan Karim Benzema.
Lebih dari itu, ia juga masuk jajaran eksklusif sebagai pemain muslim keempat yang pernah menyabet penghargaan ini setelah George Weah, Zidane, dan Benzema.
Dominasi PSG juga tampak jelas dalam daftar Ballon d’Or tahun ini. Klub ibu kota Prancis itu menempatkan enam pemain di posisi 10 besar, termasuk Vitinha, Achraf Hakimi, Gianluigi Donnarumma, dan Nuno Mendes.
Sementara itu, Lamine Yamal, wonderkid Barcelona berusia 18 tahun, menempati posisi kedua sekaligus meraih Trofi Kopa sebagai pemain muda terbaik dunia.
Kisah Dembele hari ini adalah paradoks dalam dunia sepak bola: seorang pemain yang pernah dicap “rentan cedera” kini berdiri sebagai pesepak bola terbaik di dunia. Gelar Ballon d’Or 2025 bukan sekadar penghargaan individu, melainkan pengakuan atas perjalanan panjang yang ditempa luka, keraguan, dan akhirnya kemenangan.












