News  

BMKG Ungkap Faktor Cuaca Pemicu Longsor di Cilacap

Longsor mengubur dua belas rumah di Dusun Tarukahan, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah pada Jumat (14/11). Foto: Dok BPBD Kabupaten Cilacap

Untuk mendukung OMC, BMKG mengusulkan pos komando ditempatkan di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, karena lokasinya dinilai paling strategis untuk mobilitas pesawat.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menegaskan bahwa pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan permohonan resmi pemerintah daerah dan akan didanai melalui Dana Siap Pakai (DSP) BNPB. “Pelaksanaan teknis operasi akan disupervisi dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah oleh BMKG,” tegas Budi.

Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, mengungkapkan bahwa pihaknya terus memberikan dukungan informasi kepada BASARNAS, BPBD, BNPB, serta instansi daerah terkait. Informasi tersebut mencakup pembaruan prakiraan cuaca harian yang lebih terperinci untuk wilayah Desa Cibeunying.

“BMKG juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Sabtu (15/11) dan terus memperbarui prakiraan cuaca harian. Informasi meteorologis yang tepat waktu sangat dibutuhkan untuk mendukung mitigasi dan mengantisipasi kemungkinan longsor susulan,” kata Bagus.

Waspada Dampak Dua Bibit Siklon

Selain rangkaian faktor yang menyebabkan longsor, BMKG juga mendeteksi dua Bibit Siklon Tropis 97S dan 98S yang sedang aktif dekat wilayah Indonesia. Meski peluangnya untuk berkembang menjadi siklon tropis cukup kecil, namun dampaknya terhadap cuaca Indonesia dinilai signifikan.

Guswanto menjelaskan bahwa kombinasi suhu muka laut hangat dan aktivitas MJO membuat kedua bibit siklon itu tetap berpotensi memicu cuaca ekstrem.

“Meskipun kedua bibit siklon tersebut diperkirakan memiliki peluang kecil berkembang menjadi siklon tropis, kondisi pendukung seperti suhu muka laut yang hangat serta aktivitas MJO yang meningkat tetap memicu dampak nyata berupa hujan lebat dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah,” ujar Guswanto.

Dampak Bibit Siklon 97S (15–16 November 2025):

  • Hujan lebat–sangat lebat di NTT
  • Hujan sedang–lebat di Jateng, DIY, Jatim, Bali, NTB
  • Angin kencang di NTB dan NTT
  • Gelombang 1.25–2.5 meter di perairan selatan Jawa–NTT, Selat Bali bagian selatan, Selat Sumba, dan Laut Sawu

Dampak Tidak Langsung Bibit Siklon 98S:

  • Gelombang tinggi 2.5–4.0 meter di Samudra Hindia barat Lampung
  • Gelombang 1.25–2.5 meter di perairan barat Aceh–Lampung dan Selat Sunda
  • Hujan sedang–lebat di Bengkulu, Lampung, Banten, Jabar
  • Angin kencang di beberapa wilayah Sumatera dan Jawa bagian selatan

Melihat sejumlah kejadian longsor di Cilacap dan daerah lain, BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat, media, dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi. Langkah proaktif ini diperlukan untuk meminimalkan risiko bencana di tengah kondisi cuaca yang masih fluktuatif.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow