Pertunjukan diperkuat penampilan para aktor yang tampil total, yakni Meyda, Agustav, Trisnanto Budidoyo, Deka Aepama, Lilian Kiki Triwulan, dan Rone Yuliar. Dinamika permainan mereka membangun emosi penonton dari awal hingga akhir.
Di balik layar, produksi dikomandoi Ikrom Rifai sebagai pimpinan produksi dan Peppy sebagai stage manager yang memastikan seluruh elemen pertunjukan berjalan tertata.
Menariknya, pentas ini juga melibatkan kolaborasi lintas komunitas. Teater Proses dari Universitas Wijayakusuma Purwokerto (UNWIKU) turut menggarap artistik panggung. Sementara itu, kelompok musik dari Umah Wayang Kemukusan Selakambang menghadirkan iringan calung yang memperkuat nuansa lokal. Dukungan juga datang dari Dewan Kesenian Purbalingga.
Pemerintah Kabupaten Purbalingga turut memberikan dukungan. Bupati Purbalingga yang diwakili Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II), Mukodam, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pertunjukan tersebut. Ia berharap panggung-panggung seni seperti ini semakin sering digelar agar denyut kebudayaan daerah tetap terjaga.
Antusiasme penonton bahkan melampaui ekspektasi panitia. Sejumlah pejabat daerah, komunitas seni dari Purbalingga dan Banyumas, hingga masyarakat umum memadati lokasi pertunjukan. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa teater masih memiliki ruang di hati publik.
Sejak berdiri pada 2016, Katasapa dikenal aktif menggelar berbagai kegiatan seni sastra dan teater. Agenda mereka meliputi pentas teater, pelatihan, baca puisi, peringatan Bulan Bahasa, diskusi budaya, penerbitan buku sastra, hingga lomba baca puisi.
Melalui “Blokeng”, Katasapa tidak sekadar merayakan perjalanan 10 tahun. Komunitas ini menegaskan komitmennya untuk terus merawat ruang ekspresi, menjaga daya kritis seni, serta memperkuat identitas budaya lokal.
Satu dekade telah dilalui. Namun bagi Katasapa, panggung bukan hanya tempat tampil—ia adalah ruang dialog sosial yang akan terus menyala.












