Dari sisi sumber daya manusia, kualitas riset Unsoed tercermin dari pertumbuhan jumlah guru besar. Pada 2022, Unsoed memiliki 46 profesor, dan kini jumlah tersebut melonjak lebih dari 100 persen menjadi 139 guru besar yang aktif menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri PPN menyampaikan apresiasi terhadap kualitas riset Unsoed yang dinilai sejalan dengan visi besar Bappenas, khususnya dalam pembangunan manusia dan kebudayaan.
Menanggapi wacana pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di sejumlah provinsi, Menteri menekankan pentingnya efektivitas penggunaan anggaran riset nasional.
“Adanya BRIDA (badan riset dan inovasi daerah) dan rencana pembentukan BRIDA dibeberapa daerah propinsi, menurut saya lebih strategis anggaran tersebut untuk diberikan kepada Perguruan Tinggi yang sudah terbukti menghasilkan riset yang berkualitas dan menjawab persoalan yang ada di masyarakat.,” ujar Menteri PPN dalam pertemuan tersebut.
Menteri menilai hasil riset Unsoed memiliki kualitas dan potensi pengembangan yang besar. Karena itu, Bappenas berkomitmen mendorong hilirisasi agar produk riset tidak berhenti di laboratorium atau jurnal ilmiah, melainkan terintegrasi ke dalam ekosistem industri dan kebijakan publik.
Rektor Unsoed, Prof. Akhmad Sodiq, menyambut positif peluang kolaborasi ini. Ia menegaskan kesiapan Unsoed untuk berperan sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya dalam menyediakan basis data riset yang kuat guna mendukung pembangunan manusia dan kebudayaan.
Kolaborasi ini diarahkan untuk mendukung visi Indonesia 2034, sejalan dengan arah kebijakan perencanaan pembangunan nasional yang diusung Bappenas.
Pertemuan antara Unsoed dan Bappenas ini menjadi pijakan awal kerja sama yang lebih teknis dengan berbagai kedeputian di Bappenas. Tujuannya memastikan setiap inovasi kampus dapat menghasilkan dampak ekonomi nyata dan berkontribusi langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat luas.













