Sadewo mengungkapkan bahwa Semen Bima saat ini sudah mulai menyerap RDF dari Banyumas, meski volumenya masih terbatas. Dalam kondisi ideal, kebutuhan RDF perusahaan tersebut dapat mencapai 300 ton per hari.
“Saya meminta dengan tegas, utamakan Banyumas sebagai pemasok RDF. Kita punya bahan yang cukup. 70 ton dari Banyumas harus terserap dulu oleh Semen Bima,” ujarnya.
Bupati juga menjelaskan perkembangan terbaru pengelolaan sampah di wilayahnya. Dari total volume sampah, sekitar 77 persen telah berhasil dimanfaatkan dalam berbagai bentuk.
“Yang 77 persen sudah terkelola menjadi macam-macam. Ada yang menjadi kompos, makanan magot, plastik terpilah dijual langsung. Jadi proses sudah berjalan baik,” ungkapnya.
Menurut Sadewo, proses pemilahan sampah dilakukan dengan ketat sebelum material dikirim untuk diproduksi menjadi RDF.
“Sebelum jadi RDF, saya pilih lagi. Plastik yang sudah tidak bisa diolah saya pisahkan untuk saya jadikan biji plastik. Ini untuk produk plastik yang saya sebut KW2,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, Sadewo menegaskan bahwa MoU ini bukan sekadar formalitas. Pemkab Banyumas berkomitmen mempercepat langkah menuju zero sampah, bahkan sebelum target tahun 2029.
“Kesepakatan ini harus segera diwujudkan, tidak hanya sebatas penandatanganan,” pungkasnya.













