Banyumas Raya Alami Deflasi Januari 2026, Inflasi Tahunan Tetap Aman di Target Nasional

Ilustrasi Pasar. Foto: Pemkab Banyumas

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Wilayah Banyumas Raya mencatatkan deflasi pada Januari 2026, seiring meredanya permintaan masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Meski demikian, secara tahunan tingkat inflasi di wilayah ini masih terjaga dalam kisaran target nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dua kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Banyumas Raya, yakni Purwokerto dan Cilacap, sama-sama mengalami penurunan harga secara bulanan. Di Purwokerto, inflasi Januari 2026 tercatat minus 0,36 persen (month to month/mtm) dengan inflasi tahunan sebesar 2,79 persen (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencatat inflasi 0,58 persen (mtm) dan 2,61 persen (yoy).

Kondisi serupa terjadi di Cilacap. Kabupaten ini mencatat deflasi sebesar minus 0,42 persen (mtm) pada Januari 2026, dengan inflasi tahunan 2,63 persen (yoy). Sebelumnya, pada Desember 2025, inflasi Cilacap berada di level 0,53 persen (mtm) dan 2,79 persen (yoy). Dengan capaian tersebut, inflasi tahunan Banyumas Raya masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Mahdi Abdillah, menjelaskan bahwa deflasi yang terjadi di Purwokerto terutama dipicu oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya dari kelompok hortikultura.

“Deflasi di Purwokerto pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas pangan, khususnya komoditas hortikultura,” ujar Mahdi dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi di Purwokerto paling besar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga sebesar minus 1,73 persen (mtm), dengan andil terhadap deflasi sebesar minus 0,52 persen (mtm). Sejumlah komoditas pangan tercatat memberikan kontribusi signifikan, di antaranya daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, serta telur ayam ras.

Sementara itu, tekanan deflasi yang lebih dalam tertahan oleh kenaikan harga sejumlah komoditas nonpangan, seperti emas perhiasan, mobil, telepon seluler, bawang putih, dan sepeda motor.

Di Cilacap, pola deflasi bulanan juga menunjukkan karakter yang hampir serupa. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar minus 2,07 persen (mtm) dengan andil minus 0,67 persen (mtm). Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, serta telur ayam ras.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow