Kebijakan pemerintah daerah yang mewajibkan minimal tiga toko material di setiap kecamatan dinilai berhasil menciptakan persaingan harga yang sehat.
“Dampaknya, warga penerima bantuan dapat meningkatkan kualitas bangunan, seperti mengganti lantai plester menjadi keramik dengan anggaran yang sama. Selain itu, budaya gotong royong masyarakat Banyumas yang tinggi, di mana tetangga turut menyumbang material maupun tenaga, membuat hasil bangunan jauh lebih baik dibanding daerah lain,” jelasnya.
Selain menggunakan dana pemerintah, program bedah rumah di Banyumas juga mendapat dukungan besar dari sektor swasta dan lembaga filantropi.
Beberapa di antaranya bantuan 500 unit rumah dari Yayasan Budha Tzu Chi, serta dukungan dari Astra International sebanyak 165 unit rumah yang rencananya akan ditambah sekitar 250 unit lagi.
Pendanaan program ini juga berasal dari berbagai sumber, mulai dari APBD kabupaten, APBD provinsi, APBN hingga dukungan perusahaan swasta.
Dalam forum tersebut, pemerintah daerah juga melakukan evaluasi program berdasarkan data terbaru di lapangan. Berbagai persoalan yang masih menjadi tantangan turut dibahas, mulai dari akses layanan kesehatan, perubahan perilaku masyarakat, hingga efektivitas pendampingan keluarga berisiko stunting.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh pihak yang terlibat mulai dari pemerintah daerah, DPRD Banyumas, hingga pemerintah desa dan kelurahan melakukan deklarasi komitmen bersama untuk mempercepat penurunan stunting.
“Komitmen ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud kesungguhan kita untuk memastikan setiap anak di Banyumas tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing,” tegas Sadewo.
Pada kesempatan tersebut, pemerintah daerah juga memberikan penghargaan kepada desa, kecamatan, serta mitra pembangunan yang dinilai berhasil menekan angka stunting.
Kategori desa dengan penurunan jumlah stunting tertinggi diraih oleh Desa Kalisalak sebagai peringkat pertama, disusul Desa Sokawera di posisi kedua, dan Desa Tinggarjaya di posisi ketiga.
Sementara itu, kategori kecamatan dengan penurunan stunting tertinggi diraih Kecamatan Cilongok, diikuti Kecamatan Purwojati dan Kecamatan Jatilawang.
Adapun kategori prevalensi stunting terendah diraih Kecamatan Purwojati, sementara Tanoto Foundation mendapat penghargaan sebagai mitra pembangunan dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Kabupaten Banyumas.













