JAKARTA, MyInfo.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kerja sama perdagangan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak akan meningkatkan ketergantungan impor nasional. Pemerintah memastikan volume impor tetap sama, hanya terjadi perubahan asal negara pemasok energi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di tengah sorotan publik terhadap kesepakatan perdagangan energi bernilai miliaran dolar antara kedua negara.
Dalam acara Semarak Milad ke-28 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta, Minggu (1/3), Bahlil menjelaskan bahwa kebutuhan energi Indonesia hingga saat ini masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi produksi domestik.
“Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude, inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja USD15 miliar,” ujar Bahlil dikutip Senin (2/3/2026).
Menurutnya, kesepakatan dengan Amerika Serikat bukan kebijakan penambahan impor baru, melainkan strategi pengalihan sumber pembelian energi dari negara pemasok sebelumnya.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian perdagangan internasional tanpa mengubah kebutuhan energi nasional secara keseluruhan.
Bahlil juga menepis kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga akibat perubahan mitra dagang energi. Ia memastikan transaksi impor tetap mengacu pada harga pasar global.
“Harga impor ketiga produk senilai USD15 miliar dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain,” ujarnya.













