Dalam aspek pembiayaan, Bahlil menegaskan bahwa proyek kemandirian energi ini tidak akan terlalu membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah berupaya melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta pihak swasta agar pendanaan dapat berjalan lebih efisien.
“Jadi yang pertama, kita mengerjakan ini tidak memakai dana APBN, sedikit sekali. Sedikit sekali. Kita akan pakai kolaborasi dengan swasta,” tegasnya.
Sejumlah program strategis telah disiapkan untuk mempercepat transisi energi bersih. Pemerintah menargetkan pembangunan panel surya skala besar dengan kapasitas hingga 80 gigawatt (GW) yang akan dikerjakan PT PLN (Persero) bersama para investor. Sementara itu, PT Pertamina (Persero) didorong untuk meningkatkan produksi migas dan memperkuat kapasitas kilang guna menjaga ketahanan energi nasional.
Melalui kombinasi antara kebijakan bahan bakar campuran dan sinergi pembiayaan lintas sektor, pemerintah berharap percepatan menuju energi bersih dan mandiri bisa segera terwujud.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga berdialog langsung dengan mahasiswa mengenai pemahaman mereka terhadap peta jalan energi nasional. Ia memberikan apresiasi berupa beasiswa dan rekomendasi khusus kepada peserta yang menunjukkan semangat tinggi dan ide-ide inovatif dalam mendukung masa depan energi Indonesia.













