Pusat data berbasis AI di Indonesia saat ini masih di bawah 1 persen dari pangsa global, menunjukkan perlunya percepatan pembangunan pusat data berbasis energi terbarukan serta perluasan jaringan 5G.
Laporan juga menekankan kebutuhan pengembangan 400 ribu talenta AI hingga 2030, dengan estimasi investasi sebesar USD 968 juta untuk pendidikan, pelatihan, dan reskilling.
Saat ini Indonesia memiliki 364 startup AI dengan total pendanaan USD 1,08 miliar, serta sejumlah riset nasional seperti Sahabat-AI V2, model bahasa besar berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah.
Capaian ini menjadi sinyal bahwa Indonesia mulai bergerak dari sekadar pengguna menuju negara pengembang teknologi AI.
Founder dan CEO Twimbit, Manoj Menon, menilai Indonesia berada pada posisi strategis di era AI berdaulat.
“Dengan fondasi digital yang kuat dan ekosistem yang inklusif, Indonesia dapat menjadi pusat pertumbuhan AI di Asia dan mempercepat perjalanan menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Indosat menegaskan komitmennya sebagai mitra strategis dalam mendorong transformasi digital nasional.
President Director and CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menambahkan bahwa edaulatan AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang membangun masa depan yang dimiliki dan dikendalikan oleh Indonesia sendiri.
“Melalui kolaborasi strategis dan inovasi berkelanjutan, kami berkomitmen menghadirkan konektivitas inklusif dan solusi AI beretika untuk memberdayakan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045,” tambahnya.













