CILACAP, MyInfo.ID – Pertamina memulai pembangunan lanjutan Proyek Hilirisasi Biorefinery Cilacap Fase 2 di kompleks Kilang Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar perusahaan dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat peran kilang tersebut sebagai pusat produksi bahan bakar nabati, khususnya untuk sektor penerbangan.
Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, mengatakan pengembangan biorefinery di Cilacap telah dirintis melalui Fase 1 yang berfokus pada optimalisasi fasilitas kilang eksisting. Tahap tersebut menjadi dasar pengembangan bahan bakar ramah lingkungan, termasuk Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Menurut dia, unit Thermal Distillate Hydro Treating (TDHT) memegang peran penting karena menghasilkan avtur berbasis kerosin yang menjadi komponen utama SAF. “Fase pertama menjadi pijakan penting dalam pengembangan bioavtur sebagai bagian dari agenda transisi energi Pertamina,” ujarnya.
Pengembangan proyek ini dimulai sejak 2021. Setelah melalui proses peningkatan fasilitas dan penyelesaian unit pada 2022, Pertamina pada 2025 berhasil memproduksi SAF berbahan baku minyak jelantah melalui skema co-processing dengan katalis buatan dalam negeri.
Produk SAF tersebut telah diuji pada sejumlah penerbangan, di antaranya pesawat CN-235-200 pada 2021, Boeing 737 Garuda Indonesia pada 2023, serta Airbus A320 milik Pelita Air pada 2025.
Untuk tahun ini, Pertamina menargetkan produksi SAF mencapai 27 ribu kiloliter per tahun dengan memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku utama. Sejumlah maskapai penerbangan juga telah menyatakan komitmen pembelian, termasuk Pelita Air.
Sebagai kelanjutan keberhasilan tersebut, Pertamina mengembangkan Fase 2 dengan kapasitas 6 ribu barel per hari. Fasilitas ini nantinya akan memproduksi SAF dan Hydrogenated Vegetable Oil (HVO) untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global.












