JAKARTA, MyInfo – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan ruang yang aman dan inklusif bagi anak-anak dalam menyampaikan aspirasi, kritik, serta pandangan mereka terkait isu perlindungan anak. Hal itu disampaikan dalam dialog terbuka bersama anak muda yang digelar sebagai upaya memastikan suara anak benar-benar didengar dalam proses pembangunan.
Dialog tersebut menjadi wadah bagi anak untuk terlibat langsung menyampaikan pengalaman, tantangan, hingga rekomendasi kebijakan, terutama di tengah berkembangnya persoalan perlindungan anak di era digital.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian PPPA dan Save the Children Indonesia, yang diselenggarakan di Ke:Kini Café, Cikini, serta diikuti secara luring dan daring oleh puluhan anak dari berbagai komunitas.
“Pertemuan hari ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan antara Kemen PPPA dan Save the Children yang tujuan utamanya adalah mendengar langsung aspirasi, suara, dan gagasan kalian mengenai isu-isu perlindungan anak, khususnya terkait tantangan yang muncul di ranah digital,” ujar Arifah Fauzi.
Dalam forum tersebut, Menteri PPPA menekankan bahwa pemerintah memiliki kewajiban memastikan hak-hak anak terpenuhi secara setara. Untuk itu, dialog ini membahas enam isu utama perlindungan anak yang dinilai krusial dan saling berkaitan.
“Pemerintah wajib hadir memastikan hak-hak anak terpenuhi. Hari ini kita akan mendalami enam isu besar perlindungan anak, yaitu kekerasan terhadap anak, pekerja anak dan eksploitasi ekonomi, akses inklusif bagi anak dengan disabilitas, anak yang berhadapan dengan hukum, pengasuhan dan peran keluarga, serta perlindungan anak dalam situasi darurat seperti bencana, konflik, maupun migrasi,” kata Arifah.
Ia menegaskan, keenam isu tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan tantangan bersama seluruh elemen masyarakat.
Menteri PPPA menilai, mendengarkan suara anak merupakan langkah penting karena anak berada di posisi paling dekat dengan persoalan yang dihadapi, baik di dunia nyata maupun ruang digital.
“Kalian melihat persoalan dari jarak yang paling dekat, mengalami langsung risiko-risiko di dunia digital maupun dalam kehidupan sehari-hari, serta memahami strategi apa yang efektif dan tidak efektif,” ujarnya.
Arifah juga mendorong anak-anak untuk berani menyampaikan pengalaman dan gagasan kreatif yang kerap luput dari sudut pandang orang dewasa.
“Tidak ada kebijakan yang lebih kuat daripada kebijakan yang lahir dari suara anak. Karena itu, Bunda ingin kalian berani berbicara, berbagi pengalaman, dan menyampaikan rekomendasi agar layanan perlindungan anak semakin relevan,” tegasnya.













