BANYUMAS, MyInfo.ID – Aktivitas pengayakan gula kelapa di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, yang sebelumnya memakan waktu hingga dua jam untuk setiap 10 kilogram, kini tak lagi melelahkan. Berkat inovasi mahasiswa Telkom University Purwokerto, proses tersebut dapat diselesaikan jauh lebih cepat melalui mesin otomatis berbasis energi surya dan Internet of Things (IoT) bernama SOLVIA.
Inovasi ini dikembangkan dalam program Innovillage 2025 sebagai solusi nyata atas persoalan yang dihadapi para perajin gula kelapa setempat.
Ketua tim mahasiswa, Farhat Huda, menjelaskan bahwa ide pembuatan SOLVIA berangkat dari hasil observasi langsung di lapangan.
“Setelah sebelumnya kami mengembangkan platform digital CocoBase untuk pencatatan produksi dan distribusi, kami menemukan kendala terbesar berikutnya ada di proses pascapanen, khususnya pengayakan yang masih dilakukan manual,” ujar Farhat dalam keterangannya dikutip Selasa (3/3/2026).
Selama ini, proses pengayakan dilakukan secara tradisional dengan tenaga manusia. Untuk 10 kilogram gula kelapa, waktu yang dibutuhkan bisa mencapai 1–2 jam. Selain menyita waktu, pekerjaan tersebut cukup berat, terutama karena mayoritas pengolah adalah perempuan.
Ketua Kelompok Tani, Sikko Ferianto, mengakui kendala tersebut berdampak langsung pada kualitas produk.
“Prosesnya lama dan melelahkan. Hasilnya juga kadang kurang seragam,” ungkapnya.
Butiran gula yang tidak merata kerap memengaruhi standar mutu dan harga jual di pasaran.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa merancang SOLVIA sebagai mesin pengayak otomatis dengan sistem getaran dan saringan bertingkat. Teknologi ini menghasilkan ukuran butiran yang lebih seragam sekaligus mempercepat proses produksi.













