WASHINGTON, MyInfo.ID – Indonesia dan AS Capai Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan hasil signifikan, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia resmi mendapatkan tarif nol persen untuk pasar Amerika Serikat. Kesepakatan ini dinilai menjadi terobosan baru dalam hubungan dagang kedua negara sekaligus membuka peluang ekspor lebih luas bagi pelaku usaha nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa dokumen ART mencakup ribuan produk strategis dari sektor pertanian hingga industri berteknologi tinggi.
“Dalam ART ini ada 1.819 pos tarif produk Indonesia baik itu pertanian maupun industri, antara lain minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, komponen pesawat terbang yang tarifnya adalah nol persen,” ucapnya dikutip dari keterangan persnya, Sabtu (21/2/2026).
Kesepakatan tarif nol persen ini mencakup komoditas unggulan seperti sawit, kopi, kakao, dan rempah-rempah yang selama ini menjadi andalan ekspor Indonesia. Selain itu, sektor industri bernilai tambah seperti komponen elektronik, semikonduktor, hingga komponen pesawat terbang juga masuk dalam daftar.
Khusus untuk tekstil dan produk apparel, Amerika Serikat menerapkan skema tarif nol persen melalui mekanisme tariff rate quota (TRQ). Kebijakan ini diperkirakan berdampak besar terhadap jutaan tenaga kerja di sektor padat karya.
“Tentunya ini memberikan manfaat bagi empat juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga ini sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat indonesia,” tambahnya.
Dampak ekonomi dari kebijakan ini diproyeksikan tidak hanya meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar AS, tetapi juga menjaga stabilitas lapangan kerja dalam negeri.
Sebagai bagian dari prinsip resiprokal dalam Agreement on Reciprocal Trade, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif nol persen bagi sejumlah komoditas utama asal Amerika Serikat, terutama gandum dan kedelai.
Menurut Airlangga, kebijakan ini justru melindungi konsumen dalam negeri dari kenaikan harga produk berbasis bahan baku impor.












