“Hanya UMKM dengan potensi, kualitas produk yang baik, dan kontinuitas produksi yang dapat mengikuti program ini,” tambahnya.
Program ini juga memberi kesempatan UMKM memilih tujuan ekspor dari 33 negara. Tercatat sejak Januari hingga Agustus 2025, transaksi mencapai 90 juta USD.
Sementara itu, Kepala Sekolah Ekspor, Handito Joewono, mengapresiasi kerja keras para peserta yang selama enam bulan mengikuti materi daring dan enam kali pertemuan tatap muka.
Ia berharap program ini berlanjut dan mendorong UMKM Banyumas untuk tampil dalam ajang Trade Expo Indonesia, sehingga produk lokal bisa semakin dikenal di pasar global.
Handito juga berbagi pengalaman saat membawa produk Banyumas ke Timor Leste dan Papua Nugini.
“Produk seperti bulu mata dan ecoprint mendapat sambutan hangat. Ini menunjukkan bahwa produk Indonesia sangat dihargai di luar negeri,” ungkapnya.
Penutupan program ditandai dengan harapan bersama agar Banyumas Naik Kelas tidak berhenti pada satu angkatan saja, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi dengan pihak swasta, serta pembinaan dari lembaga ekspor, UMKM Banyumas diyakini mampu berkembang, naik kelas, dan menembus pasar internasional.












